Prestasi Alumni

Dr. Memet Sudaryanto

Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

(Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)

Saya adalah alumni S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia angkatan 2013 yang saat ini mengabdi sebagai Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Unsoed Purwokerto. Menjadi alumni S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia dengan berbagai kegiatan yang mendukung kegiatan kurikuler maupun nonkurikuler merupakan hal yang menyenangkan. Banyak prestasi yang didukung ketika menjadi mahasiswa, seperti (1) menjadi pembicara pada seminar, (2) mengikuti kegiatan organisasi pascasarjana, (3) terlibat dalam riset dan pengabdian dosen, sampai (4) meraih pekerjaan atas jejaring dari dosen. Dengan biaya yang bersaing, menjadi mahasiswa di S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia, saya mendapat banyak kesempatan berkolaborasi dengan dosen maupun mahasiswa. Dari proses itulah saya menerbitkan artikel publikasi atas riset-riset ketika menjadi mahasiswa. Dari fondasi yang kuat itu pula, saya akhirnya dapat melanjutkan studi doktoral dalam waktu yang singkat. Terima kasih Prodi S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia.
Titi Setyoningsih

Titi Setyoningsih, S.Pd., M.Pd.

(Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Surakarta)

From Zero:

Saya  jatuh  cinta  dengan  kegiatan  membaca  saat kelas 2 SD, saya ingat betul waktu itu saya membaca  dongeng  Timun Mas, sejak saat itu saya memiliki ruang imajinasi tersendiri yang hanya bisa terisi dengan kegiatan membaca. Saat SMP, orangtua saya meragukan segala  bacaan  yang  tidak  ada kaitannya dengan pelajaran sekolah seperti, Harry  Potter, Narnia, Mitologi Yunani,The Lord of The Ring serta berbagai judul fiksi. Setiap malam saya akan menelusup ke dalam selimut, membawa senter,  lalu mulai  membuka  lembar  demi lembar bacaan fiksi yang saya pinjam dari  perpustakaan  sekolah.  Jangan  sampai orang tua tahu kalau putrinya masih gemar membaca buku fiksi. Upaya saya  tidak berhenti sampai di situ, saya ingin membuktikan kepada beliau berdua bahwa hobi membaca saya bukanlah sesuatu yang sia-sia. Saya ingin orang tua mendukung minat saya dalam membaca, khususnya bacaan fiksi dan sejenisnya. Tidak hanya berargumentasi secara teori, saya ingin membuktikanya dengan tindakan nyata. Lalu timbul cita-cita bahwa saya ingin menjadi seorang penulis fiksi.

To Hero:

Tahun 2010, setelah perjuangan keras serta mendapatkan penolakan berkali- kali, cerpen pertama saya berjudul Abu Merapi berhasil dimuat di majalah kaWanku. Luar biasa senangnya saya, tulisan dan honor saya tunjukkan ke kedua orangtua saya. Akhirnya mereka mempercayai mimpi  anak  gadisnya  ini  untuk  menjadi  seorang penulis fiksi. Setelah Abu Merapi beberapa cerpen saya bertengger di majalah kaWanku dan koran antara lain, Pusara putih (2010), Mars yang Merindukan Tawa Bumi (2010), Pelangi Tak Berwarna (2011), Aku Harus Pulang (2012), Nyanyian Alam (2013), Sepuluh Kutukan Dawet Ayu (2013), Istri Pengganti (2013), Gerimis Sore Hari (2014). Pada tahun 2010 saya berhasil mendapat juara harapan II dalam kompetisi menulis cerpen tingkat nasional  yang  diadakan  majalah  kaWanku. Lalu pada tahun 2011 saya berhasil menyabet juara I lomba yang diadakan setiap tahun tersebut. Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2013 novel pertama saya lolos untuk diterbiatkan Gramedia Pustaka Utama dengan judul Lolipop:  Love, Lies,  Promise, Past (GPU, 2013). Lalu pada tahun 2015, novel kedua saya juga terbit di Gramedia Pustaka Utama, berjudul Putri Kunang-kunang (GPU, 2015). Novel terbaru saya yakni Senja Kelana (Penerbt Andi, 2023) yang juga dapat ditemukan di toko buku Gramedia seluruh Indonesia. Pada tahun 2014 saya mewakili kampus saya (UNS) dalam kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) cabang penulisan cerita pendek. Siapa yang menyangka, perempuan yang lahir di salah satu dukuh terpencil, berhasil mendapatkan gelar sarjana pada tahun 2015 dan gelar magister pada tahun 2017. Selama menjadi dosen saya masih menggeluti hobi menulis fiksi, beberapa di antaranya dimuat koran, Pernikahan Murni (Kedaulatan Rakyat, 2024), Raksasa Timun Mas dari Eropa (Suara Merdeka, 2024), dan Istri Keempat Tuan Bisma (Suara Merdeka, 2024).  Lalu, cerpen saya yang berjudul Pengakuan Suami Parinem (2025) dimuat koran Kompas pada bulan September lalu.

Dr. Rudi Adi Nugroho M.Pd.

(Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)

Tahun 2007-2009 merupakan masa yang sangat berkesan dalam perjalanan akademik saya. Saat itulah, saya menempuh jenjang S-2 di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UNS. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari para dosen yang luar biasa. Arahan dan bimbingan akademik maupun nonakademik juga saya dapatkan dan sangat terasa manfaatnya dalam proses memasuki dunia kerja. Pada akhir tahun 2009, saya mengikuti seleksi CPNS Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia dan dinyatakan diterima terhitung sejak Desember 2009. Bekal yang sangat berharga dari Prodi S-2 PBI UNS turut mengantarkan saya sampai pada titik sekarang ini. Semoga Prodi S-2 PBI UNS semakin sukses dan semakin banyak menghasilkan lulusan yang siap memajukan Pendidikan Bahasa Indonesia di kancah nasional maupun internasional.

Eko Triono, S.Pd., M.Pd.

(Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta)

Eko Triono, lahir di Cilacap, 1989, merupakan alumnus Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang lulus pada tahun 2018. Saat ini ia berkerja sebagai dosen di Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBSB, Unversitas Negeri Yogyakarta. Selama menempuh kuliah S-2 di PBI UNS, ia mendapatkan pengalaman akademik dan dorongan kreatif yang berharga, di antaranya mengikuti pertukaran pemuda di Hong Kong Design Centre, Hong Kong, dan residensi sastrawan di Universitas Leiden, Belanda, bersama program Komite Buku Nasional (2018). Dalam masa kuliah tersebut pula, ia menghasilkan buku sastra dan meraih sejumlah penghargaan di antaranya Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (Divapress, 2016) meraih penghargaan sastra terbaik dari Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017 dan termasuk dalam daftar pendek (5 besar) Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017; Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (Basabasi, 2017); Republik Rakyat Lucu (Shiramedia, 2018) termasuk dalam daftar panjang (10 besar) Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2019, dan novel Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing (Gramedia Pustaka Utama, 2018) merupakan Pemenang III Unnes International Novel Writing Contest 2017. Selama menempuh studi di UNS, ia aktif menulis karya sastra dan opini di berbagai media massa seperti Harian Kompas, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain, yang menjadi bekal berharga dalam karir akademik dan kepenulisannya saat ini. IG: @ekolalutriono.

 

Dwiana Nur Rizki Hanifah, S.Pd., M.Pd.

(Dosen PGSD, Universitas Sebelas Maret, Surakarta)

Dahulu, aku hanyalah seorang anak desa yang sederhana, tumbuh di antara hamparan sawah dan langit yang jujur. Saat menapaki bangku perkuliahan S-1, aku bukanlah mahasiswa yang terlampau ambisius; aku hanya mahasiswa “kupu-kupu” yang berkelana dari kelas ke rumah, mencari arti perjalanan tanpa tergesa. Namun, titik balik datang ketika semangat untuk berkembang mulai menyala dan mendorongku mengikuti berbagai ajang, baik akademik maupun nonakademik. Dari panggung public speaking aku belajar berbicara dengan hati, hingga akhirnya namaku bergema sebagai Pemenang Favorit Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2023. Melihat teman-teman menjelajah dunia menumbuhkan keinginan serupa, tetapi aku ingin melangkah bukan sekadar untuk berwisata, melainkan untuk menimba ilmu.

Tak berhenti sampai di situ, aku melanjutkan pendidikan tinggiku hingga Program Studi S-2 Pendidikan Bahasa Inodonesia FKIP UNS. Dengan bimbingan para dosen tercinta di Pendidikan Bahasa Indonesia UNS, aku memberanikan diri mengikuti International Paper Competition di Universiti Malaysia, dan Tuhan menghadiahkanku posisi 2nd Winner dengan pembiayaan penuh fakultas. Langkah itu berlanjut ketika aku terpilih sebagai delegasi fully funded ke tiga negara—Malaysia, Singapura, dan Thailand—serta meraih predikat Best Delegate dan Best Speaker melalui riset tentang SDGs 4. Kini, perjalanan itu menuntunku kembali ke almamater, bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai dosen PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, bertekad menjadi lentera kecil bagi generasi penerus bangsa.